Merger dan Akuisisi di Industri Telekomunikasi

Ketika kita membahas dunia Busines-to-Business (B2B), tidak afdhal rasanya kalau tidak menyinggung Merger dan Akuisisi (M&A). M&A boleh dibilang merupakan transaksi B2B tertinggi dimana obyek transaksinya bukan lagi produk atau jasa dari sebuah perusahaan, melainkan perusahaan itu sendiri yang diperjualbelikan. M&A adalah senjata paling strategis bagi manajemen suatu perusahaan untuk mencapai efisiensi yaitu dengan memanfaatkan sinergi dan opportunity untuk tumbuh. Motivasi utama dari M&A adalah hasrat suatu perusahaan untuk tumbuh secara cepat  sedemikian rupa sehingga mampu untuk meningkatkan market share dan mencapai skala ekonomi yang memadai (economies of scale) dengan cepat.

Merger dan Akuisisi sudah terjadi di berbagai industri, tetapi akan sangat menarik untuk membahas M&A di industri telekomunikasi terutama karena hal-hal berikut:

  • Dalam satu dekade terakhir nilai M&A di industri Telekomunikasi telah mencapai 1.5 trilyun USD dengan motivasi dari M&A itu sendiri mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
  • Di beberapa industri lain (misalkan otomotif, oil & gas, farmasi, dsb), M&A telah berlangsung cukup lama dan boleh dibilang telah mencapai maturitas. M&A di industri telekomunikasi walaupun juga sudah berlangsung cukup lama, tapi baru mencapai puncaknya di beberapa tahun terakhir yaitu pada tahun 2004-2007 dan kemungkinan waktu itu akan terus memuncak kalau saja tidak terganggu oleh global economy slowdown di tahun 2008.
  • Ada beberapa faktor penting yang mendorong (dan di lain pihak juga membatasi) proses M&A di dunia telekomunikasi, yang tidak terlalu berpengaruh pada industri lain seperti teledensitas di suatu daerah atau negara, cepatnya perkembangan teknologi, dan regulasi pemerintah.
  • Di banyak industri, M&A telah menghasilkan konsolidasi kekuatan pemain besar, sebagai contoh hanya 5% perusahaan di masing-masing industri Healthcare, Otomotif, Oil & Gas,dan Financial Service menghasilkan hampir 80% revenue di industri-industri tersebut, bandingkan dengan industri telekomunikasi dimana 5% perusahaan besar-nya hanya menghasilkan revenue sebesar 62% (data tahun 2009). Jika melihat kecenderungan di industri-industri lainnya, para pengamat memperkirakan masih akan terus terjadi konsolidasi (dalam bentuk M&A) antara pemain-pemain besar di industri telekomunikasi sampai tercapainya satu titik stabilitas antara pemain-pemain besar tersebut.

Faktor-faktor Pendorong M&A di Industri Telekomunikasi

Secara umum ada beberapa faktor utama yang mendorong terjadinya M&A di dunia Telekomunikasi:

  • Akuisisi lisensi

Akuisisi lisensi ini terutama terjadi di negara yang ijin/lisensi penyelenggara jasa telekomunikasi dibagi berdasarkan area geografis (misalkan India). Akuisisi lisensi ini banyak didorong oleh teledensitas yang sudah mencapai saturasi sehingga suatu perusahaan berusaha meluaskan operasi nya ke daerah/region/negara lain yang teledensitas nya lebih rendah.

  • Akuisisi spektrum frekuensi.

Spektrum frekuensi  merupakan ‘nyawa’ dari perusahaan penyelenggara telekomunikasi. Tiap perusahaan mendapat ‘jatah’ spektrum tertentu berdasarkan regulasi di tiap negara (sebagai contoh penyelenggara GSM di India awalnya hanya mendapat jatah spektrum 4.4MHz, sedangkan untuk CDMA mendapat jatah 2.5MHz), dimana jatah tersebut menjadi hambatan untuk ekspansi ketika jumlah pelanggan meningkat dengan cepat.

  • Akuisisi infrastruktur  jaringan telekomunikasi.

Kecepatan membangun jaringan telekomunikasi adalah prasyarat untuk mendapatkan pelanggan dan revenue secepatnya, tetapi seringkali terkendala terutama oleh proses akuisisi lahan. Dengan demikian, akuisisi perusahaan lain otomatis akan bisa menjadi solusi untuk menambah infrastruktur jaringan dengan sangat cepat. Walaupun begitu, di beberapa negara, termasuk Indonesia, regulasi justru mendorong penyelenggara telekomunikasi untuk tidak melakukan akuisisi lahan sendiri melainkan menyewa dari penyedia menara telekomunikasi (tower provider). Regulasi ini (dan juga strategi perusahaan telekomunikasi untuk fokus di bisnis inti) bahkan mendorong untuk terjadinya divestasi dimana penyelenggara telekomunikasi malahan menjual asset menara dan lahan mereka kepada tower provider untuk kemudian balik menyewa tower dari tower provider tersebut.

  • Akuisisi brand value.

Beberapa brand terkemuka seperti Vodafone dan Orange mencoba mempertahankan brand nya untuk dipakai oleh perusahaan-perusahaan yang diakuisisinya di berbagai negara, dimana strategi ini mampu mencipatakan image sebagai international brand dan meningkatkan brand value mereka. Terakhir Qatar Telecom juga memperkenalkan international brand baru dengan nama Oreedoo. Tetapi banyak perusahaan yang justru tetap mempertahankan local brand dari perusahaan yang diakuisisinya, walaupun begitu strategi ini tetap mampu mengangkat brand value di negara asal perusahaan yang mengakuisisi tersebut.

  • Meningkatkan EBITDA

Penyelenggara telekomunikasi di negara-negara dia Asia Pacific seperti Cina, Philipina, Indonesia, Thailand, Indonesia memiliki EBITDA yang sangat tinggi, rata-rata bisa mencapai 40-60%. EBITDA yang sangat tinggi ini sangat menarik bagi investor dari negara-negara lain yang operating margin (EBITDA) nya jauh lebih rendah.

  • Kombinasi dari semua faktor di atas.

Seringkali salah satu atau beberapa faktor-faktor di atas justru diabaikan ketika suatu perusahaan memutuskan untuk melakukan merger/akuisisi karena adanya kebutuhan salah satu faktor lain yang sangat mendesak. Sebagai contoh suatu perusahaan mungkin memutuskan untuk mengakuisisi perusahaan lainnya karena terdesak untuk mendapatkan tambahan spektrum frekuensi walaupun merger/akuisisi ini tidak akan meningkatkan coverage jaringan mereka dan bahkan berpotensi memperburuk EBITDA setelah kedua perusahaan bergabung.

Trend M&A di Industri Telekomunikasi

Mengutip analisa McKinsey, trend yang sudah terjadi pada  M&A di dunia telekomunikasi  bisa digambarkan sebagai berikut:

  • Aktivitas M&A mencapai puncaknya di tahun 2004-2007, untuk kemudian menurun pada 2008 akibat global economy slowdown. Setelah itu aktivitas M&A meningkat lagi.
  • Sejak 2001 sampai 2006 kebanyakan M&A terjadi di Eropa dan Amerika Utara, kemudian sejak 2007 terjadi peningkatan M&A di negara-negara lainnya (emerging market) dari sebelumnya di bawah 25% hingga mencapai 50% dari total nilai M&A.
  • Dilihat dari nilainya (M&A deal value), 80% M&A terjadi pada inti bisnis telekomunikasi (core business) dan sisanya terjadi di bisnis-bisnis lainnya yang berdekatan dengan bisnis telekomunikasi (adjacent) seperti infrastruktur, connectivity, multimedia, dan institusi keuangan.
  • Dilihat dari nilainya, perbandingan antara M&A lintas negara (cross-border) dengan M&A dalam negri (in-country) cenderung stabil dengan perbandingan sekitar 35/65 (in-country jauh lebih besar). Sedangkan dilihat dari jumlahnya (M&A number of deals), cross-border M&A cenderung menurun dan kebanyakan terjadi di Eropa, Timur Tengah dan Afrika Utara.
  • Dilihat dari jumlahnya, M&A yang terjadi dengan industri yang berdekatan dengan telekomunikasi (adjacent) mengalami peningkatan. Hal ini kemungkinan disebabkan batasan bisnis telekomunikasi dengan bisnis yang berdekatan seperti bisnis media, internet dan juga perangkat (devices) menjadi semakin tidak jelas sehingga banyak penyelenggara telekomunikasi melihat akuisisi bisnis yang berdekatan ini sebagai peluang untuk meningkatkan pertumbuhan.

Berikut ilustrasi trend M&A di Industri Telekomunikasi:

McKinsey1

Masa Depan M&A di Industri Telekomunikasi

Dorongan untuk melakukan M&A di industri Telekominikasi masih tetap akan besar terutama karena adanya konsentrasi kas yang melimpah pada beberapa pemain besar ditambah kemampuan mereka untuk mendapatkan  pembiayaan dari hutang. Pemain-pemain besar tersebut bisa dikelompokkan menjadi dua yaitu pemain besar internasional dan pemain besar lokal . Tetapi di lain pihak ada hasil analisa historis yang menunujukkan bahwa produktivitas dari modal di industri telekomunikasi akan mengalami penurunan (diminishing return) setelah revenue mencapai 70 milyar EUR. Dengan banyaknya pemain besar yang telah melampaui threshold tersebut, keuntungan dari akuisisi menjadi tidak atraktif lagi buat mereka.

Yang menarik dari trend M&A di industri telekomunikasi adalah terjadi perbedaan analisa mengenai bagaimana masa depan dari M&A itu sendiri, terutama dalam hal perlu atau tidaknya perusahaan melakukan cross-border M&A. McKinsey misalnya melihat ke depannya akan terjadi kecenderungan penyelenggara telekomunikasi untuk melakukan M&A in-country, di mana hal ini didorong adanya kebutuhan untuk memperbaiki posisi keuangan dengan mencapai economies of scale,  meningkatkan sinergi, dan akses terhadap critical asset seperti spektrum frekuensi.

Sebaliknya Booz & Co dalam papernya Winning in the Next Wave of Telecom M&A – The Way Forward for GCC Operator justru meramalkan bahwa M&A cross-market (kurang lebih sama dengan definisi cross-border) akan mendominasi di industri telekomunikasi. Booz juga kemudian mendefinisikan KPI yang harus dimiliki oleh perusahaan penyelanggara telekomunikasi untuk menentukan apakah perusahaan  tersebut memiliki kemampuan untuk melakukan M&A cross-market yang meliputi Revenue, Recurring Cash Flow, Net Debt/EBITDA, Average Dividend Pay-Out Ratio, dan Ownership % of Primary Shareholder. Dari hasil perhitungan KPI didapatkan bahwa perusaahaan telekomunikasi di Timur Tengah seperti Etisalat dari UAE, STC dari Saudi dan Qatar Telecom memiliki kemampuan untuk melakukan M&A cross-border.

Terlepas dari apakah kesimpulan dari Booz ditanggapi oleh perusahaan-perusahaan telekomunikasi dari negara-negara arab tersebut, kenyataannya beberapa perusahaan memang terlihat cukup aktif melakukan akuisisi cross-border terhadap perusahaan telekomunikasi di negara-negara Timur Tengah lainnya, Afrika, dan Asia. M&A cross-border  yang dilakukan negara-negara Arab ini terbukti tidak selamanya menghasilkan keuntungan dan pertumbuhan sebagaimana yang diharapkan.  Awalnya akuisisi ini kelihatan menjanjikan tetapi kemudian banyak masalah yang harus dihadapi di perusahaan-perusahaan subsidiary, mulai dari masalah Forex, regulasi pemerintah, dinamika pasar, dan rendahnya ARPU, sehingga akhirnya ada perusahaan yang justru memutuskan untuk kembali fokus pada pasar domestiknya.

Ke depan kelihatannya juga akan makin banyak perusahaan Telekomunikasi yang melirik bisnis-bisnis lain yang berhubungan untuk meningkatkan profitability dan pertumbuhan mereka. Penyelenggara Telekomunikasi menghadapi ancaman terbesar bahwa jasa yang mereka tawarkan akan menjadi infrastruktur komoditas di mata pelanggan mereka, sementara keuntungan terbesar akan diambil justru oleh pemakai service mereka seperti multimedia dan content provider, social media, digital commerce dan sebagainya. Untuk menghadapi ancaman ini mereka mulai ambil ancang-ancang untuk malahan ikut bermain di arena tersebut, antara lain dengan merger, akuisisi atau kerjasama bentuk lain dengan pemain di bisnis-bisnis tersebut. Di Indonesia contoh yang cukup update adalah apa yang dilakukan oleh XL Axiata yang menggandeng SK Planet dari Korea Selatan untuk membentuk Joint Venture bersama-sama mengembangkan bisnis e-commerce.

Sebagai penutup, keputusan untuk melakukan M&A (atau kebalikannya melakukan divestasi) di industri Telekomunikasi kelihatannya menjadi  pilihan yang perlu dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh, tidak hanya untuk mendapatkan pertumbuhan tetapi bahkan juga untuk bertahan hidup. Industri Telekomunikasi adalah industri padat modal dan long term, dan masih harus menghadapi kendala utama yaitu regulasi pemerintah. Hanya pemain-pemain yang punya modal kuat dan fleksibilitas dalam melihat persaingan dan masa depan yang akan mampu bertahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s